Penamaan dan masyru`iyahnya

Shalat gehana dinamakan shalat Kusuf atau Khusuf, ada yang membedakan kedua istilah tersebut yaitu Kusuf untuk gerhana bulan dan Khusuf untuk gerhana matahari atau sebaliknya, yang sebenarnya kedua istilah itu sama saja, misalnya untuk menyebut gerhana matahari terkadang dipakai kata kusuf dan terkadang Khusuf sebagaimana riwayat di bawah ini :

عن المغيرة بن شعبة قال : انكشفت الشمس على عهد رسول الله ص يوم مات ابراهيم ، فقال الناس :انكشفت الشمس لموت ابراهيم ، فقال رسول الله ص : إنّ الشمس والقمر آياتان من آية الله لا ينكشفان لموت احد ولا لحياته ، فاذا رأيتموهما فادعوا الله وصلّوا حتّى تنكشف[1] {متفق عليه } 

 

Artinya : Dari Mughirah bin Syu`bah, ia berkata : Telah terjadi gerhana matahari pada zaman Nabi saw bersamaan dengan hari meninggalnya Ibrahim (putra Rasulullah saw), maka orang-orang berkata : Telah terjadi gerhana matahari karena kematian Ibrahim. Rasulullah saw bersabda : Sesungguhnya matahari dan bulan adalah dua tanda kebesaran Allah, keduanya tidak akan terjadi gerhana karena kematian seseorang atau hidupnya, maka jika kalian melihat keduanya (gerhana) berdoalah kepada Allah dan shalatlah hingga matahari terang (nampak)

(Muttafaq`alaih)

Pada riwayat lain disebutkan :

عن ابي بكرة قال : خسفت الشمس على عهد رسول الله ص، فخرج يجرّ رداءه حتّى انتهى الى المسجد وثاب الناس اليه فصلّى بهم ركعتين.{ البخاري / الجمعة 1002} 

Artinya : Dari Abi Bakarah ia berkata : Telah terjadi gerhana pada zaman Rasul saw, beliau keluar (sambil) mengangkat kainnya (rida`) sehingga sampai masjid, orang orang berdatangan kepadanya, lalu shalat mengimami mereka (sebanyak) dua rak`at ( HSR Bukhari)

Pada riwayat pertama digunakan kata “ inkasafa” dan pada riwayat kedua menggunakan kata

“khasafa” – padahal keduanya menerangkan tentang terjadinya gerhana matahari.

Tatacara Pelaksanaannya

Secara umum pelaksanaan Shalat Gerhana sama dengan shalat Shubuh, hanya saja pada shalat ini ada tambahan satu ruku` untuk setiap rak`at, jadi jumlah ruku`nya empat

Aisyah meriwayatkan :

أنّ النبيّ ص جهر في الصلاة الكسوف يقراءته فصلّى اربع ركعات في ركعتين { رواه مسلم } 

Artinya : Bahwasanya Nabi saw menjaharkan bacaan dalam shalat Kusuf, beliau shalat dengan empat ruku` dalam dua rak`at (HSR Muslim)

Riwayat di atas menerangkan bahwa rak`at  shalat Kusuf adalah dua dengan empat kali ruku` , al-Fatihah dan surahnya dibaca dengan jahar (suara terdengar)

Pada riwayat lain Ibnu Abbas menerangkan dengan rinci :

انخسفت الشمس على عهد رسول الله ص فصلّى فقام قياما طويلا نحو من قراءة سورة البقرة ، ثمّ ركع ركوعا طويلا ، ثمّ رفع فقام قياما طويلا – وهو دون القيام الأوّل – ثمّ ركع ركوعا طويلا – وهو دون الركوع الأوّل – ثمّ رفع ، ثمّ سجد ، ثمّ قام قياما طويلا – وهو دون القيام الأوّل – ثمّ ركع ركوعا طويلا – وهو دون الركوع الأوّل – ثمّ رفع فقام قياما طويلا – وهو دون القيام الأوّل – ثمّ ركع ركوعا طويلا – وهو دون الركوع لأوّل – ثمّ رفع رأسه ، ثمّ سجد ثمّ انصرف ، وقد انجلت الشمس  فخطب الناس { رواه البخاري }

Artinya : Telah terjadi gerhana matahari pada zaman Rasul saw, lalu beliau shalat; beliau berdiri lama seprti (lamanya) membaca surah al-Baqarah – kemudian ruku` dengan ruku` yang lama, kemudian mengangkat kepalanya  kemudian berdiri lama – tapi tidak selama berdiri yang pertama, kemudian beliau ruku` yang lama – tapi tidak selama ruku yang pertama, kemudian mengangkat kepalanya (i`tidal), kemudian sujud, kemudian berdiri (lagi) yang lama – tapi tidak selama berdiri yang pertama, kemudian ruku` dengan ruku` yang lama – tetapi tidak selama ruku` yang pertama – kemudian mengangkat kepalanya dan berdiri yang lama – tapi tidak selama berdiri yang pertama, kemudian ruku` dengan ruku` yang lama – tapi tidak selama ruku` yang pertama – kemudian mengangkat kepalanya, kemudian sujud kemudian memberi salam, (ketika itu) matahari sudah nampak, lalu beliau berkhutbah di hadapan orang orang (HSR Bukhari)

Pada riwayat di atas jelas bahwa pada setiap rak`at ada dua kali ruku` dan bacaan, berdiri dan ruku`nya selalu lebih lama yang terdahulu. Setelah selesai shalat baru beliau berkhutbah.

Yang perlu dicermati bahwa dalam setiap rak`at beliau hanya membaca satu kali al-Fatihah, artinya setelah bangkit dari ruku` beliau berdiri dan langsung membaca surah sebagaimana diterangkan pada riwayat :

خسفت الشمس ، فقام النبيّ ص فقرأ سورة طويلة ، ثمّ ركع فاطال ثمّ رفع رأسه ثمّ استفتح بسورة اخرى { رواه البخاري }

Artinya : Telah terjadi gerhana, maka Nabi saw berdiri (shalat) , beliau membaca surah yang panjang, kemudian beliau ruku` dan memanjangkan (ruku`nya) kemudian mengangkat kepalanya , kemudian beliau memulai bacaannya dengan surah yang lain (HSR Bukhari)

Kata kata “ kemudian beliau memulai bacaannya dengan surah yang lain” memberi arti tidak ada bacaan al-Fatihah setelah bangkit dari ruku` yang pertama.

Panggilan untuk shalat

Sebagai ganti adzan dan qamat untuk mengajak orang shalat dipakai lafazh khusus sebagaimana riwayat :

عن عائشة قالت : خسفت الشمس على عهد رسول الله ص فبعث رسول الله ص مناديا فنادى (الصلاة جامعة) وخرج الى المسجد فصفّ الناس ورائه … { رواه مسلم }

Artinya : Dari Aisyah ia berkata : Telah terjadi gerhana pada zaman Rasul saw, lalu Rasulullah saw mengutus seorang penyeru, maka ia menyeru dengan ucapan “ ashalatu jaami`ah”,  beliau keluar ke masjid dan orang-orang bershaf di belakangnya …. (HSR Muslim)

Tempat Pelaksanaannya

Meskipun tidak terdapat perintah yang tegas dari Nabi saw tentang tempat pelaksanaannya tapi riwayat riwayat yang ada menunjukkan bahwa shalat tersebut dilaksanakan di masjid seperti yang disebutkan pada riwayat :

عن عائشة قالت : خسفت الشمس في حيات النّبيّ ص ، فخرج   رسول الله ص الى المسجد ، فقام فكبّر وصفّ الناس ورائه …  { رواه البخاري ومسلم }

 

Artinya : Dari Aisyah ia berkata : Telah terjadi gerhana di masa hidupnya Nabi saw, lalu Rasulullah saw keluar ke masjid, lalu beliau bertakbir dan orang orang bershaf di belakangnya (HSR Bukhari & Muslim )

عن عائشة قالت : خسفت الشمس على عهد رسول الله ص فبعث رسول الله ص مناديا فنادى (الصلاة جامعة) وخرج الى المسجد فصفّ الناس ورائه … { رواه مسلم }

Artinya : Dari Aisyah ia berkata : Telah terjadi gerhana pada zaman Rasul saw, lalu Rasulullah saw mengutus seorang penyeru, maka ia menyeru dengan ucapan “ ashalatu jaami`ah”,  beliau keluar ke masjid dan orang-orang bershaf di belakangnya …. (HSR Muslim)

عن ابي بكرة قال : خسفت الشمس على عهد رسول الله ص، فخرج يجرّ رداءه حتّى انتهى الى المسجد وثاب الناس اليه فصلّى بهم ركعتين.{ البخاري / الجمعة 1002} 

Artinya : Dari Abi Bakarah ia berkata : Telah terjadi gerhana pada zaman Rasul saw, beliau keluar (sambil) mengangkat kainnya (rida`) sehingga sampai masjid, orang orang berdatangan kepadanya, lalu shalat mengimami mereka (sebanyak) dua rak`at ( HSR Bukhari)

Anjuran Ketika Gerhana

Di samping shalat, ketika terjadi gerhana kita dianjurkan berdoa, istighfar dan bertakbir dan bersedekah :

قال ص : إنّ الشمس والقمر آياتان من آيات الله لا يخسفان لموت احد ولا لحياته ، واذا رأيتم ذلك فادعوا الله وكبّروا وتصدّقوا وصلّوا { رواه البخاري ومسلم }

Artinya : Nabi saw bersabda : Sesungguhnya matahari dan bulan adalah dua tanda kebesaran Allah, keduanya tidak akan gerhana karena kematian seseorang atau hidupnya (lahir), dan apabila kalian melihat seperti itu (terjadi gerhana), maka berdoalah kepada Allah, dan bertakbirlah dan bersedekahlah dan shalatlah (HSR Bukhari & Muslim)

Kesimpulan

1. Ketika terjadi gerhana bulan atau matahari kita dianjurkan shalat

2. Shalat gerhana (Kusuf atau Khusuf) terdiri dua rak`at dengan tambahan masing masing  satu

kali ruku` pada setiap rak`at

3. Dalam shalat ini hanya ada dua kali bacaan al-Fatihah yaitu ketika setelah takbiratul ihram

dan ketika memulai bacaan pada rak`at kedua. Setiap bangkit dari ruku` yang pertama

langsung membaca surah.

4.Shalat ini dilaksanakan di masjid dengan berjama`ah

5. Setelah shalat diadakan khutbah

6. Selain shalat ketika terjadi gerhana kita dianjurkan berdoa, bertakbir dan bersedekah.

———-